BEST ADVENTURE TRIP

New Post

Rss

Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Sejarah Prabu Siliwangi

Sejarah Prabu Siliwangi


Artikel perihal sejarah prabu Siliwangi ini dikutip dari banyak sekali sumber, dan mengenai kebenaran isinya masih belum bisa dipastikan 100% benar adanya. Artikel ini lumayan panjang lebih dari 7.500 kata, oleh karena itu yang tidak punya banyak waktu untuk membaca lebih baik di bookmark terlebih dahulu (ctrl+D) atau bisa berkunjung kembali ke website ini.


 dan mengenai kebenaran isinya masih belum bisa dipastikan  Sejarah Prabu Siliwangi


PENDAHULUAN

Hampir semua pegunungan di Tatar Sunda ini menjadi tempat hunian para leluhur Pajajaran antara lain, Gunung Munara, Gunung Galuh, Gunung Kapur Ciampea, Gunung Gede, Gunung Ceremai, Gunung Slamet serta Gunung Padang. Selain itu pegunungan lainnya di luar Pulau Sunda, juga banyak mencatat riwayat perihal sejarah prabu Siliwangi yang menjadi tokoh Kerajaan Pajajaran. Rupanya pegunungan menjadi suatu tempat yang mengesankan dengan alasan tertentu. 


Dilain pihak Prabu Siliwangi juga menyukai gua, atau lembah yang mendekati aliran sungai. Oleh karena itu, Prabu Siliwangi telah mengukir sejarah di wilayah, mirip ; Batutulis, Kutamaneh/Kutawesi, Pasir Angin, Cengkuk, Cangkuang, yang merupakan tempat awal penyebaran keturunannya sebelum ke seantero Nusantara. 

Tentunya kondisi tempat-tempat tersebut di atas, jauh berbeda dengan keadaan sekarang. Dahulu kala keadaan alam masih hutan lebat, mungkin juga bagai savanna tanpa pepohonan !. Tetapi yang akan diuraikan disini perihal kehadiran insan yang bekerjasama dengan tabir adanya Prabu Siliwangi. Walaupun bersifat legenda, kiranya nama tempat maupun nama tokoh menjadi alasan berpengaruh adanya untaian riwayat yang perlu dikenali oleh keturunan Prabu Siliwangi

Selain itu pula, masih banyak lokasi yang belum terungkap di belahan jagat raya ini yang pernah di jelajahi oleh Prabu Siliwangi. Tetapi banyak kendala, karena nara sumber yang sulit mengungkap, juga sejarah Prabu Siliwangi tidak sembarang orang dapat menuturkan secara batiniah maupun artifak. Sehingga diakui, memakan waktu lama untuk membuktikan minimal mendekati kejelasan riwayat sejarah Prabu Siliwangi.

Walaupun demikian, sebagai penghormatan kepada leluhur yang menjadi nenek moyang, marilah coba mengungkap secercah perihal sejarah Prabu Siliwangi. Sebab bagaimanapun juga nama Prabu Siliwangi bagi rakyat tatar Sunda sangat erat kaitannya dengan nama kebesaran daerah, maupun dengan kharisma Siliwangi. Oleh karena itu, apabila hendak menuturkan kisah perihal sejarah Prabu Siliwangi, maka harus dari sumber yang berkompeten karena tidak mustahil akan menjadi polemik dan dongeng yang usang dikalangan rakyat serta anak keturunan Prabu Siliwangi. Bahkan mungkin tidak diridoi oleh obyeknya. Dalam pengungkapanpun harus orang yang sempurna dan memiliki warisan sejarah, serta mempunyai kemampuan membaca dan menulis huruf lingga sangkala, kawi, sanksekerta, maupun bahasa “karuhun”.

Dan jikalau menyimak Siliwangi, sebaiknya harus identik dengan zaman purba dan bebatuan. Sebab latar belakang pada zamannya selalu meninggalkan jejak batu-batuan, gua, dan watu bertulis yang merupakan tanda warisnya. Namun menurut orang bau tanah dulu, semua peninggalan itu di awali dari Rumpin dan Ciampea di daerah Bogor. Karena, dari sanalah awal Prabu Siliwangi digelar ke alam persada ini. 


KEBERADAAN NAMA KERAJAAN PAJAJARAN

Nama Siliwangi banyak dihubungkan dengan nama Kerajaan Tarumanegara maupun dengan nama Sunda atau nama Kerajaan Pajajaran. Hanya disini akan disinggung nama Kerajaan Pajajaran saja, karena nama Kerajaan Pajajaran mungkin yang paling sempurna dan sangat berarti. Namun, bukan nama lainnya di abaikan. Hanya saja, Taruma disebut karena dikawasannya banyak pohon tarum. Kemudian nama negara pun, karena alasan masyarakatnya menggunakan bahasa Sunda. Makara nama Taruma maupun Negara, hanya sebutan (katelah, bahasa Sunda) karena kondisi keadaan zaman itu. 

Sedangkan nama Kerajaan Pajajaran, lebih berkesan terhadap hasil upaya Sang Pemimpin. Menurut “orang tua” nama Kerajaan Pajajaran yakni nama jajaran. Sama halnya dengan adanya seorang bapak, ibu dan anak. Itulah sinonim Kerajaan Pajajaran. Atau dengan kata lain jajaran atau jejeran anak-cucu dan keturunannya. Sedang nama Siliwangi yakni nama gelar, untuk setiap anak-cucu keturunan dari Kerajaan Pajajaran. Namun tidak semua anak-cucunya bisa dikatakan Siliwangi, tentunya hanya kepada anak-cucu tertentu yang pantas dan menjadi pemimpin (Kokolot, bahasa Sunda) di tiap wilayah tertentu. 

Tahun berapa adanya kehidupan masyarakat Pajajaran ?. Salah satu patokannya, angka 081 sebagaimana tertera pada watu makam Sangiyang Sungging Prabangsa di Cikembar Sukabumi. Menurut “orang tua” angka tersebut merupakan tahun sebelum masehi. Hal itu menunjukkan, bahwa Siliwangi pada zamannya telah mengukir budaya tulis yang ada di Batutulis, di Cicatih maupun di Kawali sebagai ilustrasi bagi generasi berikutnya. 

Dan konon nenek moyang tersebut, mulai menulis dengan mempergunakan jemari ujung kuku. Kuku yang kita kenal merupakan tanda ”doraka” dan dari sisa jasad kulit insan ketika diciptakan itu, ternyata ampuh dan tajam terhadap watu sekalipun. Malah menurut informasi orang tua, perihal angka dan bahasa pun banyak dipelajari dari alam. 

Tulisan pada watu itu dikenal dengan istilah huruf ”Lingga Sangkala” dalam situasi zaman sengsara atau zaman prihatin itu istilahkan ”Mikrob Kolbu”. Nah ! dari situasi ”Mikrob Kolbu” itulah, orang bau tanah dulu mempelajari dan memalsukan huruf yang ada di dedaunan maupun buah-buahan. Bahkan hingga sekarang dari daun dan buah itu tetap masih ada, walau hanya berupa garis ikal dan berliku. Tetapi, tetap mirip dengan goresan pena yang dibuat orang bau tanah dulu. Sedangkan perihal fungsi lain dari kuku, akan dibahas selanjutnya.


KONDISI ALAM

Pada zaman itu, kebudayaan insan masih serba purba dan primitif. Alat maupun perkakas untuk menunjang kehidupannya sangat sederhana sekali. Adapun yang mereka ciptakan mula-mula, kampak, pisau maupun tombak. Semuanya dipergunakan sebagai alat berburu, tetapi juga dipergunakan sebagai senjata. Kenapa harus senjata dulu yang dibuat dan dimiliki ?. Senjata menjadi penting, karena untuk melindungi dari bahaya binatang buas, maupun sebagai alat berburu untuk kebutuhan makan. 



Jika demikian beralasan, karena keadaan alam pada zaman itu masih didominasi hutan belantara, sehingga binatang buas bebas hidup berkeliaran. Maka wajar setiap insan mempersenjatai diri untuk melindungi dirinya.

Pada zaman itupun, belum ada logam besi. Walaupun sebetulnya materi besi ada di tanah pegunungan maupun laut, tetapi insan belum memiliki teknologi untuk memprosesnya menjadi lempengan besi. Jadi, insan dahulu kala hanya mengandalkan alat seadanya. Mereka membuat senjata dari batu, kayu maupun dari tulang belulang binatang yang dibuat runcing sehingga menyerupai tombak, kampak atau pisau.

Meskipun keadaan alam yang ganas, kodrat sebagai insan memerlukan makan dan minum. Maka untuk memperoleh kebutuhannya, insan harus ikhtiar dengan cara apapun. Lagi-lagi dengan berguru terhadap kondisi alam yang ada ketika itu. Mereka berguru dari alam. Antara lain, memperhatikan bagaimana harimau dapat menaklukan mangsa dengan kuku dan gigi yang tajam. Sehingga sekalipun mangsanya lebih besar, tetapi harimau dapat menaklukan dan bahkan dapat merobek daging mangsanya untuk disantap. 

Dari salah satu kasus itulah, rupanya menjadi pelajaran bagi insan tempo dulu. Dengan kuku itu pula insan meniru, sehingga kuku mereka dipelihara dan dibuat setajam mungkin. Dengan kuku yang tajam itulah, mereka seakan-akan memiliki kekuatan untuk berburu. Mereka dapat memperoleh hasil perburuan untuk kelangsungan hidupnya. Mereka amat menikmati daging mentah, bahkan sekaligus bisa menghirup air darah serta memanfaatkan kulit binatang.

Apabila yang mereka peroleh buruan kijang atau domba, maka menjadi keburuntungan berlipat ganda yaitu dapat daging dan kulitnya. Sebab kulit hewan tersebut, mereka gunakan untuk menutupi anggota tubuh semoga terhindar dari udara cuek maupun kondisi panas. 

Sejak itulah mereka mulai dapat membedakan keadaan tubuh yang ditutupi kulit binatang dengan kondisi tubuh tanpa ditutupi. Sehingga dari pengalaman itulah mereka mulai mencari alternatif selain kulit binatang, yaitu pelepah pohon pinang (Upih, bahasa Sunda). Ternyata upih menjadi keperluan dan pilihan mereka untuk menutupi auratnya. Dengan upih itulah mereka nampak tidak telanjang sama sekali, malah terlihat mirip berbusana ala kadarnya.

Budaya menutupi aurat semenjak itu mulai berkembang, walaupun sangat sederhana. Coba bayangkan bagaimana sosok orang bau tanah dulu ! dengan tubuh tinggi besar, kuku panjang dan tajam, serta rambut panjang gimbal tak terurus, lantas tanpa penutup tubuh pula. Nampaknya terlihat menyeramkan, bukan ?!.


SIAPA SILIWANGI?

Siliwangi ketika lahir berjulukan ”PANCAWALA”, ayahnya berjulukan ”Sangiyang Dewa MURBA” atau ”Nirwana Sangiyang Domas Siliwangi” dan ibunya berjulukan ”Nyi Sri Dewi Pohaci” dikenal pula dengan nama ”SUNAN AMBU”. Beliau memiliki ageman ilmu ”CANGKOK WIJAYA KUSUMA”. Makara nama Siliwangi sudah ada dari nama orang tuanya yaitu : Nirwana Sangiyang Domas Siliwangi, jadi nama Siliwangi bukan nama gres atau telahan. Sehingga kepada keturunannyapun, tetap digunakan karena nama itu sama dengan bin atau alias. 

Mengenai sosok Siliwangi, ada pendapat mengatakan menyerupai harimau. Hal itu tidak tepat, jikalau Siliwangi yang dilambangkan menyerupai harimau. Sebab harimau malah menjadi hewan ”mainan” dan kesayangannya. Dan harimau itu sendiri dapat dikepit sebelah tangannya. Makara dapat dibayangkan sebesar apa orang bau tanah dulu kala ?, karena antara Siliwangi dengan harimau mirip sekarang layaknya orang cukup umur mengangkat seekor kucing ?. Makara sebetulnya jikalau Siliwangi dikatakan harimau hanyalah mitologi. Mungkin juga mengandung arti bahwa, harimau yakni raja hutan yang ditakuti dan disegani oleh binatang hutan lainnya. 

Memang tidak dapat dipungkiri, bahwa kehidupan Siliwangi menyerupai angin, bagai kilat dan penuh petualangan. Walau demikian, tidak mustahil Tuhan SWT menciptakan Siliwangi tanpa perencanaan, pasti dibalik itu ada kehendak Tuhan menciptakan umatnya. 

Pada zaman itu, makanan umumnya bersumber dari materi mentah mungkin termasuk daging menyebabkan keringat berbau tak sedap. Namun bagi Pancawala tidaklah demikian, dia tetap harum dan wangi. Karena selalu menikmati daging maupun lauk pauk, terlebih dahulu dibakar atau dijemur matahari. Sedangkan yang menjadi sumber api dari watu megalit maupun sumber panas lahar gunung. Oleh karena itulah, ketika Siliwangi berada di Rumpin - Bogor selalu memanfaatkan panas sulfur gunung kapur Ciseeng. Ketika menetap di Halimun, mempergunakan sumber aliran Cipanas Cisolok. Sewaktu di Gunung Padang senantiasa menggunakan sumber sulfur yang ada di Ranca Suni lembah Gunung Patuha. Selain itu pula, Ciater, kawah Tangkuban Perahu, Gunung Pancar maupun kawah Kamojang, merupakan petilasannya juga. Bahkan Gunung Pancar di jadikan tempat ’Panembongan Tatar Sunda”.

Banyak tempat dan sumber panas gunung lainnya dijadikan tempat mengolah daging dan ikan untuk hidangan makanannya. Oleh karena itu, dia tidak menyantap daging maupun ikan mentah yang menyebabkan tubuh bau tak sedap. Dari perbedaan itulah, tubuh Pancawala tetap harum dan wangi. Dikalangan insan purba, ia sudah dikenal dengan sebutan Siliwangi

Panggilan atau sebutan penggunaan nama Siliwangi, yakni atas restu dan perintah leluhurnya. Hal itu menjadi kebiasaan kepada anak keturunannya, jikalau diberikan gelar. Seperti ketika Aji Saka yang diberi gelar Siliwangi diawali di daerah Tomo – Kadipaten. Tempat itu berjulukan Marongge berada di daerah Gunung Congkrang atau Gunung Parang Sumedang. Disana terdapat aliran sungai Cihaliwung dengan Cilutung merupakan tempat bersejarah untuk menggunakan nama Siliwangi, bahkan Cilutung diberi nama ”Air Ludah Braja”, dan disekitar Marongge ditandai dengan watu yang diberi nama ”Mus Sang Geni”. Tetapi, Haji Kyai Prabu Kian Santang sendiri selaku putra keturunan Siliwangi tidak menggunakan nama Siliwangi. Makara tidak semua menggunakan nama Siliwangi. Bahkan Ciung Wanara sebagai generasi kedua Siliwangi yang memiliki nama Adi Sakti jarang menggunakan gelar Siliwangi


SENJATA

Pada uraian diatas telah disinggung bahwa Siliwangi memiliki ageman ilmu “CANGKOK WIJAYA KUSUMA”. Senjatanya berupa senjata alam yang tidak berwujud sehingga tidak nampak oleh kasat mata. Namun banyak orang meyakini bahwa Kujang yakni senjata milik Siliwangi, mungkin mirip Kujang tetapi bukan dari materi logam karena zaman itu belum ada namanya besi atau logam lainnya. Memang materi besi semenjak dahulu kala banyak terdapat di tanah pegunungan maupun laut, namun proses pengolahan menjadi besi belum ada teknologi. Senjata Kujang Siliwangi itu, sejatinya berupa nur cahaya, sehingga tidak terlihat oleh kasat mata. Rupanya semacam mustika alam dari besi kuning, dan ada keyakinan bersemayam di pulau Baas, pulau sekitar daerah Cilacap.

Senjata lainnya milik Siliwangi yaitu diberinama ”Gendeng Kalapitu”. Pusaka itu sewaktu-waktu berubah menjadi berwujud layaknya insan serta seringkali menampakkan diri disetiap gunung yang berjulukan Gunung Padang.


PERJALANAN SILIWANGI

Di atas telah disinggung, bahwa Siliwangi menyerupai angin, bagai kilat dan penuh petualangan. Beliau senantiasa berpetualang dari satu tempat ke daerah lainnya dan selalu meninggalkan jejak watu bertulis, atau watu berbentuk lingga, atau berbentuk yoni, dan juga gua. Peninggalan-peninggalan itu selalu berdekatan dengan sungai dan pegunungan, karena dari alam itulah selalu diperlukan dapat mendukung ekosistemnya. 

Karena selain daging hasil buruan, ikan juga kesukaannya. Alasan itulah kehidupan mereka senantiasa dekat dan selalu menyatu dengan alam. Selain itu pula, gua dan gunung menjadi tempat pilihannya, karena gua ideal untuk dijadikan tempat tinggal dengan alasan aman dari gangguan binatang buas. 

Perjalanan awal Siliwangi bukan hanya terdesak oleh kebutuhan hidup saja, tetapi juga mengemban misi tertentu yang dirahasiakan oleh pencipta-Nya. 


TEMPAT

Kerajaan Pajajaran di Bogor tidak memiliki tempat yang permanen sebagai sentra acara maupun untuk bernaung sebagai tempat bercengkrama layaknya masyarakat sekarang. Nama Bogor waktu itu berjulukan Saka Bumi, yang artinya tempat Saka Domas, Aji Saka, Gendeng Kalapitu dan lain-lain yang menjadi tokoh Kerajaan Pajajaran. Sedang nama Kerajaan Pajajaran hanya untuk kiasan menjajarkan anak keturunan yang sudah terjadi menyebar dari satu tempat ke tempat lainnya. Oleh karena itu, sebelum mereka mempunyai anak keturunan dan belum menyebar, tidak ada nama Pajajaran. Setelah mereka melaksanakan perjalanan jauh menyebar anak keturunan barulah muncul nama Pajajaran. Sebagai dasar perimbangan tempat bebatuan di Cibedug Raden diberi nama Hang Tua Pajajaran yang artinya tempat para leluhur Pajajaran. Hang Tua lainnya diawali dari Gunung Munara. Oleh karena itu, marilah coba diurai perjalanan Siliwangi dari satu tempat ke tempat lainnya:


a. Gunung Munara – Rumpin - Bogor

Gunung Munara-Rumpin, merupakan tempat pertama yang mereka huni. Disanalah awal kehidupan masyarakat yang menurunkan keturunan kelak berjulukan Siliwangi. Walau pegunungan itu tidak terlalu tinggi, namun rupanya tanah tersebut menjanjikan kehidupan bagi mereka. Entah berapa lama menetap di Gunung Munara, namun Munara masih nampak arogan dan meninggalkan bebatuan besar. Gunung tersebut, hingga kini setia dijaga dan dipelihara oleh Eyang Nata Boga. 

Nama Gunung Munara, merupakan telahan masyarakat sunda karena bentuk watu yang menjulang tinggi nampak bagai menara (munara, bahasa sunda) mesjid. Sehingga sekilas nampak dari kejauhan mirip menara mesjid.

Ketika keluarga Siliwangi menghuni Gunung Munara, seorang perempuan melahirkan bayi yang berjulukan Sri Dewi Ciptarasa, dan kelak menjadi istri Sisik Agung Telaga Bodas Siliwangi Rama Agung Dalem atau Purwa Kalih atau Sangiyang Windu Agung. Perkawinan tersebut melahirkan Sri Nuhun Dar Niskala Watu Sri Baduga Maha Raja Mulawaman.

Srinuhun Dar Niskala Watu Sri Baduga Maha Raja Mulawarman mempunyai garwa yaitu : Embah Buyut Haji Wali Sakti Mangkurat Jagat “nu linggih” di Lemah Duhur Pajajaran Bogor / Saripohaci Bogor. Dari Saripohaci mempunyai putra Dalem Sunan Ambu. Dalem Sunan Ambu mempunyai putra terakhir yaitu Pusparaja Siliwangi Taruma Suta Pakuwon Pajajaran.

Masih Embah Buyut Haji Wali Sakti Mangkurat Jagat / Sapujagat “nu calik” di Gunung Halimun mempunyai putra Sangiyang Singa Perbangsa atau Atok Larang atau Bolekak Larang. Atok Larang atau Bolekak Larang mempunyai putra Ratu Dayang Sumbi. Ratu Dayang Sumbi mempunyai putra ;

1. Joko Lalangon atau Sangkuriang
2. Joko Bandung Bandojaya cahaya.

Agar rangkaian keturunan ini lebih jelas, maka perlu diuraikan pula ketika di Gunung Halimun walaupun terkesan penulisan ini melompat-lompat. Tetapi dianggap perlu disinggung terlebih dahulu sewaktu Sapujagat di Gunung Halimun. 

Nirwana Sangiyang Domas Siliwangi Wardananingsih mengkisahkan perihal keturunan prabu Siliwangi dan Kerajaan Pajajaran yang memiliki putra yaitu :
1. Lingga Manik
2. Lingga Sana
3. Lingga Lingba
4. Lingga Manik Wulung
5. Sangiyang Bandung 
6. Sangiyang Putih Purba Wayang
7. Sangiyang Singa Perbangsa
8. Lingga Dewa Agung Pucuk Manik Maya yakni Sangiyang Siliwangi Wardananingsih
9. Murtapa Di Gunung Cakra Domas atau Mandalawangi Situ Sangiyang Tunggal yakni Pajajaran.

Sangiyang Putih Purba Wayang mempunyai putra Sangiyang Domas Siliwangi atau Hayam Wuruk. Hayam Wuruk mempunyai putra Sangiyang Weda yang menjadi Raja Galuh. Sangiyang Weda mempunyai putra yang menjadi raja di Palimanan. Dari istri lain Hayam Wuruk atau Sangiyang Domas Siliwangi, mempunyai putra Patih Gajah Mada atau Patih Joyo Merkolo.


b. Gunung Kapur Ciampea - Bogor

Selanjutnya, ketika keluarga kecil itu berada di Gunung Kapur Ciampea mereka membuat peninggalan berupa arca. Arca yang dibuat itu dikenal, patung 5, 4, 3, 2 dan 1. Seiring kebudayaan dan keterampilan orang dulu yang belum maju, maka patung yang dibuatpun tidak sebagus dan sehalus tangan-tangan yang terampil. Patung atau arca yang terdapat di Ciampea masih terkesan asal-asalan dan tidak sebagus yang ada di daerah-daerah lainnya. Konon bentuk patung yang dibuat merupakan wujud peringatan atau pesan bahwa ditempat tersebut pernah ditempati atau dihuni kelompok masyarakat Siliwangi.

Patung yakni lambang atau menunjukan untuk menunjukan bahwa disana telah hidup dan ada kehidupan semenjak zaman purbakala, atau semacam monumen perihal adanya insan terdahulu. Adapun yang dapat diketahui dari patung-patung watu atau Arca tersebut masing-masing memiliki nama sebagai identitasnya, yaitu :

1. Sangiyang Cupu Manik
2. Sangiyang Dewa Braja
3. Sangiyang Mustika Dewa Domas
4. Sangiyang Agung Dewa Suci

Tidak mustahil menamai patung atau arca-arca tersebut yang sebetulnya merupakan anak keturunan dari Srinuhun Dar Niskala Watu Sri Baduga Maha Raja Mulawarman.

Namun sayang, ternyata di daerah yang dianggap cikal bakal pengungkapan sejarah tersebut, kini watu berupa patung atau arca sudah tidak nampak lagi. Konon pada tahun 1974, patung-patung tersebut telah berpindah tempat. Bahkan sekarang sebanyak 3 arca telah berada dalam kotak peti dalam kondisi pecahan watu kapur di Pasir Angin Leuwiliang. Padahal dengan berpindahnya tempat bertengger patung (arca) berarti jejak sejarah telah berubah. Bahkan mungkin untuk generasi mendatang akan lebih sulit melacaknya. Kapan, bagaimana dan dimana titik tolak awal sejarah jati diri Pajajaran maupun nenek moyangnya.

Dari Gunung kapur itulah, mulai adanya perkembangan budaya masyarakat dan jumlah anggota keluarganya bertambah. Selanjutnya gunung itupun ditinggalkan. Namun sebelum beranjak migrasi ke tempat lain, mereka sempat mengabadikan pula dengan suatu monumen. Mereka membuat Padatala yaitu watu jejak kaki gajah dan kaki ayam. Hal ini mengingatkan kita perihal kaki gajah sebagai symbol Gajah Mada dan kaki ayam yakni Hayam Wuruk ?. Namun sayang, watu tersebut telah lenyap di lokasinya yang kebetulan berada di tepi sungai. Padahal watu itu dapat menjadi acuan suatu bukti adanya nama Gajah Mada maupun Hayam Wuruk dari Pajajaran yang kelak menguasai Pulau Sunda disebelah timur.


c. Lemah Duhur Batutulis 

Sewaktu Pancawala setelah menyandang Siliwangi berada di Batutulis, Sri Dewi Ciptarasa meninggal dunia. Pada masa itu, kebudayaan yang berkembang masih menganut Agama Hindu. Oleh karena itu sebagai penganut Hindu, setiap yang meninggal melalui proses perabuan. Mayat Sangiyang Sri Dewi Ciptarasa pun dibakar. Abu mayatnya dikuburkan disebelah Prasasti Batutulis bersama 8 makam lainnya.


 dan mengenai kebenaran isinya masih belum bisa dipastikan  Sejarah Prabu Siliwangi
Prasasti Batutulis

(Baca juga tentang: prasasti batutulis)

Disebelah makam itu, terdapat pula makam perabuan kerabatnya yang berjulukan Sangiyang Loro Agung. Sedang tempat pembakaran mayat, tepatnya pada rumah yang pernah menjadi tempat tinggal penduduk yang berjulukan Haji Aming (Jalan Batutulis). Di sebelah utara Batutulis terdapat watu panjang merupakan tempat kesukaan Sangiyang Lodaya Sakti bersemedi. Disitulah Sangiyang Lodaya Sakti digembleng sebelum melaksanakan petualangan ke Sancang Pameungpeuk Garut Selatan.

Disebelah selatan Batu Bertulis, terdapat patung/arca Sisik Agung Telaga Bodas Siliwangi Rama Agung Dalem atau Purwa Kalih atau Sangiyang Windu Agung. Di seberangnya, terdapat petilasan kramat Embah Dalem yang memiliki nama Eyang Embah Buyut Haji Wali Sakti Mangkurat Jagat nu linggih di Pajajaran Bogor, Lemah Duhur Saripohaci Bogor.

Leluhur tersebut, mempunyai buyut Kidang Pananjung (Embah Dalem Kedung Badak). Kidang Pananjung sendiri mempunyai anak cucu keturunan, dan banyak menyebar di sekitar Kedung Badak, Kebon Pedes dan ke arah Sukaraja Bogor. 

Sedangkan Cipaku - Bogor sebelumnya berjulukan Blubur yang meliputi Cipaku hingga batas wilayah Ciawi dan Cijeruk - Bogor. Sedangkan Kebun Raja atau sekarang terkenal berjulukan Kebun Raya, dahulu merupakan daerah “Sangiang Domas Cipatahunan”. Khususnya nama Blubur atau Cipaku, ketika pengembaraan ke Purwokerto, tokoh dari Blubur menggunakan samaran Banyak Blubur. 

Di Batutulis inipun Siliwangi membangun tata kehidupan, sedang keluarga di Ciampea tetap melanjutkan hidup bermasyarakat. Di Lemah Duhur – Batutulis, Siliwangi yang sebelumnya berjulukan Pancawala, mendapat gelar pula ”Srinuhun Dar Niskala Watu Sri Baduga Maharaja Mulawarman”. Beliau terus meningkatkan nalarnya. Ilmu pangaweruhnya dituangkan dalam goresan pena pada batu, sehingga terwujud Batu Bertulis huruf Lingga. Hal itu dilakukan, seolah amanat untuk dikenang jejak Siliwangi dan keluarganya, serta yang terpenting menjadi peringatan bahwa dia telah mendiami daerah itu. 

Berpindah-pindah Siliwangi lakukan mirip mudah sekali, karena dia dalam “perjalanannya” selalu mengandalkan ”mukjizat Saefi Angin”. Konon menurut “orang bau tanah dulu”, tiap daerah yang telah Siliwangi singgahi selalu meninggalkan watu ”pengapungan”. Sebab watu tersebut, sebagai landasan refleksi ilmu saefinya. Di Bogor pun ada, hanya ketika penulis menelusuri watu tersebut telah lenyap dari tempatnya. Batu lain yang masih tersisa bekas pertapaan Siliwangi, yaitu Batu Putih yang terletak di Sungai Cisadane dan di Curug Bengkung sekitar Rancamaya - Bogor. Serta diyakini, Siliwangi ”murca” di Sukawayana sebelum ”ngabubat” di Banjarmasin – Kalimantan.

Sedangkan bebatuan lainnya yang masih tersisa, terdapat di Cibedug Raden Pasir Angin. Disana masih nampak bebatuan besar dan masih kokoh berserakan, serta mempunyai sebutan antara lain: watu Kedok, watu Gedongan, watu Lalay, watu Kasur, watu Karut dan lain-lain. Khususnya watu Kedok memiliki nama : ”Dewa Prabu Agung Sri Baduga Maharaja”. Malah di sekitar Makam Mbah Guru Mega Mendung, watu lingga setinggi 150 cm telah hilang oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Sangat disayangkan.

Dalam perjalanannya, Siliwangi selalu berpindah tempat dengan dalih untuk memperbanyak anak keturunan, serta dari satu tempat ke tempat lainnya selalu menggunakan nama tokoh yang berbeda. Kenapa demikian ? mungkin jikalau satu nama saja akan menjadi kultus individu, dan akan selalu dicari keturunannya. Oleh karena itu, ia senantiasa setelah menganggap cukup memberi keturunan, dia terus menghilang (ngahiyang/murca), pindah tempat atau kadang mirip layaknya orang meninggal dunia. Namun sebelum hijrah dari Bogor, Nyi Sri Dewi Pohaci (Dalem Sunan Ambu) menurunkan pula seorang putra yaitu Sangiyang Pusparaja Siliwangi Taruma Suta Pakuwon Pajajaran. 

Itulah jejak Siliwangi di Lemah Duhur - Batutulis, dan Batutulis sendiri memiliki sebutan gelar ”Saiful haq bil goib” yang berarti ”Pedang kebenaran dari yang tidak nampak”, sebagai kiasan yang maksudnya : Ilmu dari leluhur Batutulis setajam pedang. Namun keturunannya hanya dapat mengenang ”Cihaliwung nunjang ka kidul, Cisadane nunjang ka kaler, panggih Cikalimusana”. Siapapun dan pusaka apapun yang melintas Cikalimusana akan ”laas teu metu ” (tidak akan ampuh). Begitulah dahulu kala. Dan Cikalimusana sekarang jarang dikenang, padahal tak jauh dengan Batutulis.


d. Kutamaneuh / Kutawesi, Cikembar dan sekitarnya.

Setelah lama di Batutulis-Bogor, balasannya Siliwangi merambah Sukabumi. Pertama disinggahi, gua yang diberi nama Kutamaneuh dan Kutawesi yang terletak di kaki Gunung Guruh. Bahkan di Sukabumi ini banyak daerah yang suka digunakan dia untuk kepentingan berumah-tangga mirip di Sukawayana, Cengkuk, Cikakak Gunung Halimun, Gunung Bentang, Gunung Beser, Gunung Batu/Cupu/Sunda. 

Khususnya Gunung Cupu, di sebutkan dalam bahasa arab “Likuli amrin hidayati” yang berarti setiap perintah pasti ada petunjuk. Dari sinilah bersemayam keturunan Siliwangi ; Eyang Surya Kate, Eyang Surya Kemasan dan Eyang Kuncung Putih. Bagi anak keturunannya, apabila hendak “bersilaturahmi khusus” malam hari pada tanggal 14 Syafar. Ketiga tokoh tersebut, juga telah menyandang gelar Siliwangi atas restu leluhurnya. 

Menurut informasi orang tua, Eyang Surya Kate yakni petualang sejati. Pengembaraannya hingga ke wilayah Tiongkok, Jepang, Saigon – Vietnam dan Muangthai serta ke Batu Merah - Australia. Mungkin saking terkesannya dengan Saigon, dia memberi nama “Kota Qolbu” dan bagi Batu Merah Australia “Qud Alam”. Sehingga kemungkinan, Suku Aborigin merupakan keturunannya. Sedangkan petualangan ke luar nusantara lainnya, yaitu ke Malaysia. Disana terdapat petilasan pertapaan Eyang Surya Kate, di sekitar danau kecil.

Adiknya Eyang Surya Kate, yaitu Eyang Surya Kemasan tetap bertahan tinggal di Indonesia. Tentang pengembaraan Eyang Surya Kate, sekitar tahun 1945-1946 ketika Jepang mengusai daerah Cikembar, serombongan bangsa Jepang mencari nama Gunung Kate. Ternyata yang bangsa Jepang yakni Gunung Batu/Cupu. Konon menurut bangsa yang menyembah matahari tersebut, mereka sambil menelusuri asal muasal tempat nenek moyangnya. Mungkin itulah salah satu bukti keteturunan dari Eyang Surya Kate.

Namun mirip kebiasaan kakek-buyutnya, Eyang Kuncung Putih pun selalu berganti nama gres sesuai dengan tempat tinggalnya yang gres pula. Eyang Kuncung Putih ketika di Sukawayana dia disebut Begawan Sukawayana, di Gunung Halimun berjulukan Eyang Gentar Alam / Eyang Gentar Bumi bahkan diyakini pula dengan sebutan Syeh Haji Qodratullah. Ketika di Gunung Beser dan Gunung Hejo, Siliwangi meneruskan bekas Eyang Suryakencana. Dan namanya di gunung itu Embah Kusumah. Di Cikembar juga terdapat nama Prabu Puspa Raja dan Prabu Sungging Prabangsa serta Ibu Ratu Sri Geuncay.

Ibu Ratu Sri Geuncay yakni saudara kembaran Ibu Ratu Dewi Sri Nyi Roro Kidul, yang satu di daratan dan yang lainnya penguasa lautan. Ibu Ratu Dewi Sri Nyi Roro Kidul memiliki doa ; “Qolbu Adam bil Hawa, bil Baetullah Wal Madinah”. Sejatinya Ibu Ratu itu penguasa seluruh lautan didunia.

Sedangkan Prabu Sungging Prabangsa di Cikembar juga dikenal Bolekak Larang. Jika di Ciamis, berjulukan Atok Larang. Khususnya masyarakat di Cihaurbeuti Ciamis tidak boleh (pamali, Bahasa Sunda) menyebut batok seakan-akan menyebut leluhurnya tanpa awalan penghormatan. 

Sedangkan di Cikembar terdapat kebiasaan absurd yang bekerjasama dengan situasi negara, jikalau negara dalam keadaan kacau tidak menentu, maka penduduk akan menjumpai babi yang berlari-lari ke tengah hunian penduduk tetapi tak lama kemudian babi itu akan hilang dan dinamai “babi hiyang”. Selain itu pula terdapat pohon beringin rengkas (tumbang). Kadang pohon itu rebah layaknya tumbang, tetapi kemudian akan berdiri kembali sebagaimana berdiri semula. Dan konon disanalah tempat bersemayam Dewa Angkara. Namun entah sekarang masih ada atau tidak, karena pohon itu tumbuh di tengah markas TNI sekarang. Sebelum menjadi markas TNI, pada zaman kolonial disana menghampar perkebunan kopi dan untuk mengawasi perkebunan itu, Belanda membuat lapangan terbang. 

Nama Kutamaneuh maupun Kutawesi, mengingatkan kita dengan nama Kuta Tandingan atau Kuta Kelambu di Karawang. Nama Kuta itupun merupakan tempat yang pernah disinggahi oleh Siliwangi. Disamping itu juga yang menjadi lokasi kesukaan Siliwangi yaitu di Gua Rampo, Gua Siluman di Cidolog Jampang Tengah maupun di Gunung Walad.


e. Gunung Halimun Cikakak dan Cengkuk

Di Gunung Halimun ini terdapat watu bersusun undak yang merupakan tapak tilas kebudayaan zaman Siliwangi. Gunung Halimun yang memiliki ketinggian antara 500 – 2000 meter dari permukaan laut ini, terdapat batu-batu punden berundak sebagai tempat untuk menyelenggarakan musyawarah sekaligus lokasi pemujaan terhadap “Sanghiyang Widi”. Suasana Gunung Halimun yang lebat dengan pepohonan serta udara yang dingin, menyebabkan nyaman bagi nenek moyang menetap disana. 

Kondisi hutan yang mendukung dari segi kondisi, maupun materi makanan yang cukup, menyebabkan garwa Siliwangi, yaitu ; Dewi Sri Ratu Panutup melahirkan 49 keturunan yang menyebar ke banyak sekali tempat. Perempuan idaman Siliwangi tersebut, masih adik kandung Ibu Dewi Sri Geuncay maupun Ibu Dewi Sri Nyi Roro Kidul. 

Menjadi kesan tersendiri, bahwa di Cikakak maupun Cengkuk masih terdapat artifak punden berundak dan tugu. Hanya sayang, gua yang terdapat patung/arca telah lenyap terkubur longsoran tanah subur Gunung Halimun. Padahal merupakan bukti sejarah yang penting dilestarikan.


f. Cangkuang

Di Leles Garut ini, Siliwangi mulai membuat candi pertama dan diberi nama “Nila Warna” atau “Ki Agem Balangantrang”. Sebenarnya candi disini terdapat empat buah, namun entah mengapa pada zaman Belanda kondisinya hancur dan sekarang yang tersisa cuma satu candi. Itupun upaya renovasi dari pihak pemerintah pada tahun 1976 dan sungguh membanggakan.

Adanya watu bersusun ini, menunjukan bahwa kebudayaan Siliwangi beserta keluarganya sudah agak maju. Candi, yakni bebatuan yang disusun rapih dibuat untuk tempat semedi. Dahulu nama Leles, lebih dikenal dengan nama “Kalingga”, dan disini keluarga Siliwangi makin berkembang dan bertambah banyak. Alasan lain, diantara keturunan mereka banyak yang saling mengadakan perkawinan antar saudara. 

Perkawinan antara saudara tersebut tidak bersifat monogamy, tetapi malah polygamy serta ditentukan karena kekuatan seseorang. Tapi mungkin juga polyandry. Sebab siapa yang dianggap “jago maka dia berhak mengawini pasangan mana saja dan berapa saja yang disukai. Mungkin begitulah masa lalu karena belum adanya aturan perihal hukum perkawinan. Walaupun ketika itu anutan atau kepercayaan mereka telah mengarah ke aturan agama Hindu, tetapi keperkasaanlah yang berkuasa menentukan pilihan sesuai seleranya. 

Oleh karena itu, perkawinan yang tidak tertib menghasilkan makin bertambahnya anggota masyarakat. Tak terkecuali dari Kalingga pun merambah ke wilayah Galuh dan ke Gunung Putang. Bagi mereka, Galuh atau Karang Kamulyan maupun Kawali, bukan batasan luar daerah. Karena, zaman itu belum adanya batas wilayah atau struktur daerah. Hanya siapa yang berkuasa, dialah segala-galanya. Begitulah dahulu kala dengan sebutan zaman kegelapan. Khususnya di Gunung Putang terdapat watu yang suka dijadikan oleh Siliwangi sebagai tempat semedi yaitu di Batu Kebek dan Batu Kasur dan Batu Ceper yang terdapat di puncak gunung itu.

Selain candi, di Kalingga inipun terdapat petilasan makam para tokoh, namun urutan nama ”kekasih” disini seolah hidup setelah kedatangan agama Islam, diantaranya mirip :

1. Mama Kanjeng Sunan Pangadegan
2. Mama Kanjeng Sunan Sembah Arif Muhammad
3. Mama Eyang Prabu Santosa / Singa Perbangsa.

Sebenarnya jikalau dikaji lebih mendalam, budaya batu-batu yang disusun membentuk candi, dibuat sebelum adanya agama Islam sehingga menjadi tanda tanya besar kenapa nama-nama diatas terkesan nama Islam, mirip sebutan Mama Kanjeng Sunan. 


g. Galuh/Karang Kamulyan maupun Kawali

Di Galuh keluarga Siliwangi makin berkembang menempati peloksok Ciamis. Cara bermasyarakatnya lebih dinamis, sehingga bermunculan banyak sekali permainan atau “kamonesan” maupun kerajinan masyarakatnya. Dari hasil kerajinan keturunannya, muncul kampung yang dinamai Rajapolah. Nama tersebut karena adanya tokoh yang kreatif. 

Di daerah Kawali khususnya banyak meninggalkan artifak berupa Batu Bertulis, Batu Kaca, dan watu lainnya yang menandakan bahwa disini telah ada kehidupan tempo dulu. Dan di Kawali pula Siliwangi telah mengukir goresan pena pada watu yang menunjukan angka 1 dan 7. Kemudian ada pula garis berkotak 4 dan 5 serta terdapat tapak jari tangan. Konon tapak tangan tersebut menunjukan disitulah “Sangiyang Tapak” berada. Mengenai angka, orang bau tanah meyakini bahwa angka-angka tersebut ternyata memiliki makna tertentu sesuai dengan perkembangan sejarah bangsa Indonesia. Sebab hal itu dihubungkan dengan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, maka bermakna tanggal 17 Agustus ‘45 dan angka 5 merupakan falsafah bangsa Indonesia yaitu Pancasila.

Sedangkan di Gunung Sawala, menjadi basis leluhur yang dihuni keturunan dari Ciung Wanara maupun dari putra Dewa Resi atau Ki Ajar Padang atau Eyang Kalawangsa atau Atok Larang atau Batok Larang.

Terdapat keunikan dengan nama Batok Larang, karena bagi keturunannya tidak boleh (pamali, Bahasa Sunda) menyebut batok, sekalipun itu batok kelapa sebenarnya. Tetapi konsonan “tok” seakan-akan menyebut leluhurnya tanpa awalan penghormatan. Dan juga semenjak dulu yang menjadi larangan penduduk disini, khususnya yang perempuan tidak boleh memelihara rambut panjang. Konon jikalau terdapat keturunan yang berambut panjang apalagi berparas cantik, maka akan kena sumpah serapah leluhurnya.

Itulah Galuh yang artinya asal mula. Sangiyang Bolekak Larang atau Atok Larang disini mempunyai anak yaitu Dayang Sumbi, Ki Balangantrang dan Diah Pitaloka. Cerita Dayang Sumbi mengingatkan kita pada zaman Sangkuriang, dan Ki Balangantrang pada babad Ciung Wanara. Sedang Diah Pitaloka sebagai cucu Siliwangi, tersirat dalam perang Bubat. Dari Dayang Sumbi melahirkan Joko Lalangon dan Joko Bandung Bandojaya. Joko Lalangon yang menjadi tokoh dalam dongeng Sangkuriang, sedangkan adiknya Joko Bandung Bandojaya menghilang bagai cahaya.


h. Majeti

Disamping Galuh, Siliwangi juga membuka lahan di suatu tempat yang berawa yaitu di Pulo Majeti. Sedangkan masyarakat disekitar memberi nama Rawa Onom (Onom artinya Dedemit, bahasa Sunda). Dinamakan pulau, karena di sekeliling pegunungannya terdapat genangan air payau. Sedangkan nama Onom, karena terkenal banyak dedemit/hantu yang pernah mereka temui. Padahal di lokasi ini terdapat tokoh-tokoh yang kelak berjulukan Aji Saka, Dewata Cengkar, Ratu Rengganis, Ratu Gandawati, Sri Begel, Sri Budegel, Sawung Galing, Sulaeman Kuning, Eyang Mentereng, Tubagus Tomal. 

Nama-nama tersebut bukan nama pituin, atau nama asli melainkan nama telahan karena tempat atau nama sifat, laku lampah dan tingkah yang unik. Seperti Eyang Mentereng, dia menyukai hal-hal yang bersifat menonjol dalam berpakaian sehingga terlihat mentereng. Kemudian Tubagus Tomal, ia malah senang berdandan diri. 

Khususnya nama Aji Saka, yakni cicit Siliwangi dan dia bergelar Siliwangi. Aji Saka yang diberi gelar Siliwangi diawali di daerah Tomo – Kadipaten. Tempat itu berjulukan Marongge berada di daerah Gunung Congkrang atau Gunung Parang Sumedang. Aji Saka memiliki adik yang menjadi kepala suku / Raja yang berkuasa di daerah Boko - Kedu. Namun sayang bekas petilasan yang berupa candi masih berantakan bebatuannya, sehingga terkesan belum selesai di bangun. Dan konon menurut penuturan orang bau tanah dulu, Candi Boko sebetulnya menyambung dengan Candi Prambanan, Candi Sewu maupun Candi Loro Jongrang. 


i. Pajajar dan Cipaku

Perkembangan di Ciamis semakin pesat menyebar kearah Cipaku dan Pajajar Majalengka yang berbatasan dengan Cirebon. Disana mereka mendirikan perkampungan yang dijadikan tempat menetap Sang Pemimpin dari keluarga Siliwangi. Di Pajajar maupun di Cipaku ini juga semakin bertambah anak dan keturunan Siliwangi, karena perkawinan antar keluarga dari wilayah lain maupun keluarga yang ada disana. Kehidupan yang telah mulai merebak, bertambah menjadi daerah pendudukan yang ramai.

Tokoh yang terkenal di Cipaku terdapat nama-nama mirip ; Ki Buyut Sawala, Ibu Siti Aisah, Ibu Syeh Ambu, Eyang Kencur Putih, Eyang Pangeran Kumis, Eyang Mama Kalijaya dan Ibu Ratu Bungsu. Di Cipaku Majalengka inipun, lagi-lagi terdapat nama yang terkesan sudah zaman Islam mirip ; Ibu Siti Aisah, Ibu Syeh Ambu dan Mama Kalijaya. Mengapa demikian ?.


j. Gunung Padang

Gunung Padang Ciwidey, terdapat Batu Lenit ( batunya besar) dan Batu Lingga ( Batu Totonde) banyak dijadikan tempat pertapaan Siliwangi. Sifatnya yang jujur, berilmu bijaksana dan senang menunjukkan anutan perihal kehidupan. Anak didiknya menyebut Sangiyang Premana atau sebutan Ki Ajar Padang. Sebelum bermukim di Gunung Padang, dia memilih hidup di Gunung Patuha. Dalam perkawinannya, melahirkan 7 orang putri. Salah satu putrinya, dinikahi Sangiyang Lingga Manik. Putri Ki Ajar Padang bersama menantunya ini, kemudian menempati daerah ”Purwo Wiwitan” atau Purwokerto sekarang. Lingga Manik alias Batara Dewa memiliki anak yang berjulukan Putri Tawang Wulan.

Nama Padang diambil dari nama gunung pertapanya, sebetulnya nama gunung tersebut dahulu berjulukan Gunung Rangga. Di Gunung Padang Sukabumi, di Kuta Tandingan, Kuta Kelambu Karawang, Gunung Padang Ciwidey, Gunung Padang sekitar Sidareja maupun di Gunung Padang Sumatera, disitulah Ki Ajar Padang melaksanakan semedi atau tapabrata. Beliau merupakan tokoh yang paling dihormati, namun enggan dijadikan pemimpin atau kepala suku tetapi selalu disertai penjelmaan Ki Gedeng Kalapitu.


k. Gunung Slamet

Ketika pengembaraan Siliwangi berada di Baturaden Gunung Slamet Purwokerto, dia berjulukan Siliwarni. Saudara-saudaranya berjulukan Banyak Cotro, Banyak Ngampar, Banyak Blubur, Batara Dewa (Sangiyang Lingga Manik). Di Purwo Wiwitan atau Purwokerto sekarang, merekapun menata kehidupannya. Tetapi Banyak Cotro mengembara kearah timur Pulau Sunda, Banyak Ngampar ke daerah Ujung Pandang (Makasar), Batara Dewa kearah selatan atau ke Cilacap. 


Sedangkan Siliwarni yang menyaru lutung selalu mengikuti gerak langkah kemanapun Putri Tawang Wulan bepergian. Putri Tawang Wulan yakni anak dari perkawinan Kepala Suku yang berjulukan Lingga Manik (Batara Dewa) dengan salah seorang putri dari Sangiyang Premana atau Ki Ajar Padang. Ketika itu Lingga Manik, tengah menguasai Gunung Alas Larangan atau Gunung Sangkala di sekitar daerah Sagara Anakan. Bahkan hingga hayatnya, Lingga Manik atau Batara Dewa ngahiyang dan bersemayam di Gunung Sangkala atau “Gunung Alas Larangan”.

Di daerah ini terdapat 2 tempat yang dikeramatkan penduduk yaitu Janur Putih sebagai penjelmaan ”Naga Nyi Sri” dan yang lainnya berjulukan “Gajah Putih Bulu Landak” serta Angka Wijaya. Naga Sri suka berubah menjadi mirip ular yang sisiknya mengarah berbalik ke depan, sedangkan Gajah Putih nampak berbulu bagai bulu landak.

Kembali ke tokoh Siliwarni, ketika itu menyaru seakan-akan rakyat jelata melamar Putri Tawang Wulan. Tetapi balasannya lamaran itu diterima. Dan perkawinan tersebut sebetulnya antara paman dengan keponakan. Dari perkawinan mereka, lahir Hariang Banga salah seorang keturunannya. Sedangkan putra Siliwangi dari lain istri, berjulukan Ciung Wanara. Anak keturunan inilah yang kelak tercatat dalam kisah perang Bubat dan keduanya bergelar Siliwangi.


l. Daerah Pengembaraan Lainnya

Urutan tempat-tempat dimaksud di bukan berarti secara berurutan jalur pengembaraan Siliwangi, tetapi daerah itulah yang banyak dan sering dijadikan hunian yang paling disukainya. Selain itu pula, daerah yang tidak tersirat disini bukan berarti tidak disenangi, tetapi malah menjadi basis bagi keturunan Prabu Siliwangi bermasyarakat pada zaman selanjutnya.

Oleh karena itu, langkah dan petualangan Siliwangi tidak terikat di satu lokasi saja tetapi dia bergerak lincah dan cepat ke setiap penjuru, bagai angin bertiup dan sesuai dengan julukan lain nama beliau, yaitu Sangiyang Kilat Buana.

Itulah beberapa tempat Pulau Sunda Bagian Barat yang telah dihuni oleh keluarga Siliwangi maupun keturunannya. Disamping itu, perjalanan dia juga tercatat ke arah timur nusantara mirip ; ke Gunung Lawu, Gunung Kelud, Gunung Tengger, Gunung Sundoro sekitar Dieng dan ke Gunung Wukir Kecamatan Salaman Magelang dan lain-lain. Malahan ketika di Ponorogo, melahirkan keturunan yang ke 5.


Dalam dongeng pewayangan wilayah Gunung Dieng di juluki Negara Madukara.

Sewaktu menghuni Sundoro, kebudayaan membuat patung maupun candi sangat digandrungi, sehingga semenjak itu sekitar Gunung Dieng banyak berdiri candi untuk pemujaannya. Disamping itu, disana juga terdapat telaga warna. Sebagaimana dimaklumi bahwa Siliwangi juga menyukai Telaga Warna di Puncak Bogor, Telaga Warna di Gunung Jampang Tengah, dan Telaga Warna atau Danau Kelimutu. Masih di sekitar Dieng, terdapat Gua Sumur, Gua Semar dan Gua Dewi Kuan In. Padahal gua atau relung tanah tersebut merupakan tempat Siliwangi bertapa. 

Sewaktu Siliwangi di wilayah Gunung Wukir, memiliki generasi keturunan yang ke 7 yaitu Syailendra. Artifak yang ada di Gunung Wukir ini ditandai dengan candi dan arca Banteng Lilin, sama mirip yang terdapat di Kebun Raya Bogor. 

Petilasan lain Siliwangi di Gunung Lawu, dahulu terdapat sebuah gua yang menghadap arah matahari, itupun menjadi tempat pertapaan Siliwangi. Kesamaan lainnya yaitu tempat yang paling disukai Siliwangi menikmati sumber air Jalatunda mirip yang terdapat di Kebun Raya Bogor, di Cirebon dan Tretes Malang.

Perjalanan Siliwangi tidak sekedar di Pulau Sunda potongan barat saja, tetapi merambah ke beberapa pulau lainnya mirip di Padang dengan nama Adityawarman, ke Pulau Nias meninggalkan petilasan Batu Loncat. Di Aceh menetap di daerah Tapak Tuan. Kemudian juga dia menyeberang ke Kalimantan dengan nama Mulawarman. Masih sekitar Kalimantan juga, dia menghuni pulau kecil dekat Banjarmasin yang sekarang berjulukan Kota Baru. Bahkan sebelum menghuni Kota Baru, pernah tinggal di Danau Toba dan menurunkan keturunan yang kelak bermarga Sisingamangaraja. Sisingamangaraja ketika diangkat menjadi pembantu (Pengawal) Siliwangi memiliki tanda merah dipipinya. 

Ketika murca di Sukawayana, Siliwangi meneruskan pengembaraannya ke Lampung dan Palembang. Disana meninggalkan petilasan berupa patung Dewi Sri, namun penduduk disana menyebutnya Patung Lidah Pahit. Padahal arti dari pengecap pahit yaitu ”Saciduh metuh saucap nyata” (ucapannya yang dikelurkan benar dan nyata).

Sungguh tidak diduga pengembaraan Siliwangi begitu jauh, namun begitulah Siliwangi tidak berhenti hingga di Kota Baru saja. Beliau yang memiliki nama lain yaitu ”Sangiyang Tapak”, juga pernah menghuni gua Leang di Sulawesi sebelum berada di Danau Merah Irian Jaya. Mungkin agak lama mendiami daerah Gowa, karena ketika disana dia menurunkan ilmu menulis bagi keturunannya yang berada di Bugis. Setelah Danau Toba, Danau Merah dan pernah juga tinggal di sekitar Danau Kelimutu (Ende-Flores) wilayah Pulau Sunda Kecil.

Siliwangi tidak dan bukan berkuasa dalam Pulau Sunda saja, tetapi jikalau menulusuri jejaknya melebihi jagat nusantara. Lalu bagaimana dengan perubahan nama Pulau Sunda ?. Entahlah Indonesia merupakan daratan yang terhampar luas. Sedangkan pada masa itu yang disebut Pulau Jawa, yakni yang sekarang Pulau Bali. Dan disanalah menetap Sangiyang Dewa, salah seorang putra pertama keturunan Siliwangi generasi yang ke 8. Sedangkan adiknya yang perempuan, yaitu Sangiyang Rinjani menetap di pegunungan yang kemudian diberi nama Gunung Rinjani. Gunung yang memiliki ketinggian antara 300 – 3700 meter dari permukaan laut ini, terletak di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Sedangkan kakak perempuan yang paling bau tanah dari Sangiyang Dewa, pergi ke Danau Kelimutu atau ”Danau Pusaka Alam”. Dinamakan pusaka alam karena danau tersebut memiliki air berwarna lambang negara. Namun sebelum Sangiyang Dewa ke Bali, dia sempat membuat Candi Jabung di daerah Panarukan. Malahan hingga ujung Pulau Sunda Besar itu, tepatnya di Alas Purwo Kabupaten Banyuwangi, terdapat gua dan makam panjang itulah suatu tanda peninggalan Siliwangi


PEREBUTAN KEKUASAAN BOROBUDUR

Pulau Sunda Besar dan Sunda Kecil, pada zaman pemerintahan Belanda dibagi-bagi menjadi beberapa daerah propinsi, dengan taktik pembentukan pemerintahan semoga dapat memudahkan pengendaliannya. Namun perubahan dari Pulau Sunda menjadi Pulau Jawa entah gagasan siapa dan kapan ?. Oleh karena itu, kejadian tugas bukan perang antar daerah, atau perang antar suku atau antar agama Hindu dengan Budha, tetapi pertikaian antara keturunan Siliwangi dan terjadi di Pulau Sunda Besar.

Kejadian pertikaian tersebut, hanya memperebutkan pewarisan Candi Borobudur diantara keturunan Siliwangi, antara Hariang Banga dengan Ciung Wanara ?. Warna Biru dan Merah inilah yang bertikai menentukan pengusaan Borobudur. Hariang Banga yang berkuasa di daerah Timur dengan warna hijau dan Ciung Wanara berkuasa di daerah Barat dengan warna merah. Penentuan warna itu terjadi di Gunung Tengger.

Ketika itu Hariang Banga berkuasa daerah timur memiliki patih yang berjulukan Gajah Mada. Gajah Mada yakni patih yang setia dan salah satu pengawal yang berilmu sakti mandraguna. Gajah Mada, ketika di Pajajaran dia yakni pengawal ke 3.

Namun sewaktu terjadi pertempuran memperebutkan penguasaan Borobudur itu, ia terluka oleh senjata saudaranya dari daerah barat. Dan Gajah Mada menyadari, hanya senjata dari Siliwangi yang dapat mengalahkannya. Dalam kondisi luka dan menghindari perang saudara lebih dasyat lagi dengan Saudaranya, ia lari dan menjauh ke arah Malang. Sampai hayatnya ia bersemayam di salah satu gua di daerah Malang. Tempat peperangan Bubat terjadi di beberapa tempat dan puncaknya terjadi di sekitar Sidoarjo. 

Dalam pertempuran sengit itupun, Diah Pitaloka tertusuk pula oleh senjata saudaranya dari timur. Ia berlari kearah Kediri. Dan hingga hayatnya meninggalkan prasasti goresan pena Palawa/Sangkakala di daerah Gunung Kawi.

Perebutan kekuasaan itu tentunya banyak meninggalkan korban dari kedua belah pihak, terutama para bala prajurit. Setelah kejadian ini kekerabatan antara kedua pihak keluarga menjadi tidak harmonis lagi, bahkan pihak dari keluarga Siliwangi dari timur mulai meninggalkan agama Hindu sebagai agama dari keturunannya. Sejak ketika itulah mereka mulai menghimpun diri menjadi kekuatan kelompok masyarakat, dan pada balasannya kelompok kekuatan itu kelak menjadi wilayah kerajaan-kerajaan diantaranya mirip ; Singosari, Majapahit.

Khususnya mengenai Gajah Mada maupun Hayam Wuruk, sebagaimana telah disinggung diatas dia merupakan keturunan Pajajaran dan diisyaratkan dengan tanda pada watu yang menggambarkan tapak kaki gajah dan telapak kaki ayam yang terdapat di tepi sungai Ciampea di Bogor telah hilang. Sayang artifak jejak kaki ayam telah lenyap sehingga sulit menjadi pembuktiannya. Gajah Mada sendiri ketika di Pajajaran menjadi Pengawal (patih) yang ke 3 dan dia meninggalkan berupa tanda watu di Batu Gede – Bojong Gede di Bogor.


SILIWANGI ZAMAN ISLAM

Siliwangi sendiri dikatakan “Slam Tunggal”, karena semenjak lahir telah kulup sehingga nampak mirip telah disunat. Pada zaman Islam dia telah melaksanakan sunatan terhadap keluarganya. Hanya sayang pratek khitanan yang dilakukan oleh Siliwangi dengan menggunakan kuku dan batok. Lubang yang nampak di potongan ujung batok kelapa dijadikan lubang penis, kemudian penis yang menjulur ia potong dengan kuku. Namun pertama khitanan yang dilakukan Siliwangi telah merenggut nyawa keluarganya, karena salah memotong. Salah satu korban salah potong khitanan tersebut, dimakamkan di sebelah selatan Batutulis sekarang.

Generasi Siliwangi ke 14 yaitu yang bergelar Haji Kiai Prabu Kian Santang, setelah gagal melaksanakan khitanan di Lemah Duhur – Batutulis Bogor balasannya kembali lagi menemui gurunya di Tanah Arab. Sekembalinya dari jazirah Arab, dia hijrah ke Gunung Mandalawangi Garut. Di Godog Suci itulah di mulai pengislaman melalui khitanan lagi. Haji Kiai Prabu Kian Santang atau dikenal pula berjulukan Sangiyang Sunan Rohman yang kemudian bersahabat dengan nama Sunan Rohmat, dan hingga final hayatnya bersemayam di Gunung Mandalawangi. Suatu ketika suka mengunjungi Gunung Batu/Cupu/Sunda dan di Gunung Bentang Sukabumi pula, berjulukan Eyang Sunan Agung Cakrawala atau Kiyai Santang Ratu Sunda. Tetapi, dia lebih banyak menempati Lemah Duhur - Batutulis Bogor dengan panggilan Eyang Embah Buyut Haji Wali Jaya Sakti Mangkurat Jagat nu linggih di Lemah Duhur Wali Tunggal Pakuwon Pajajaran. Dan selalu didampingi oleh saudaranya Sangiyang Lodaya Sakti.


Gunung Bentang - Sukabumi

Oleh karena itu, tidak mustahil banyak diantara keturunannya menjadi tokoh Islam dan menggunakan nama-nama Islam mirip nama Mama Kanjeng Sunan bagi anak laki-laki dan atau nama Siti bagi yang perempuan. Bahkan dia sendiri disamping menggunakan nama terkesan Hindu atau Budha mirip Sangiyang, Batara atau Prabu juga menggunakan nama lain mirip Haji Sakti Qodratullah, Haji Putih. Bahkan ada nama lain dia yang bernuansa Sunda kental yaitu Haji Agung Komara Putih.

Ketika di keturunan Siliwangi mengadakan pertemuan di Gunung Tengger – Bromo (meliputi wilayah Probolinggo, Malang, Pasuruan dan Lumajang), pembahasannya menyinggung aliran (ageman) cara beribadah. Keturunan yang masih menganut Sunda (Hindu) tetap beribadah dengan caranya, sedangkan agama gres yaitu Islam beribadah pula dengan aturannya. Namun tetap dari sekian banyak keturunan masih ada yang berselisih yaitu antara Ki Gede Palimanan dengan Prabu Atas Angin.

Ki Gede Palimanan yakni salah seorang keturunan Sancang Lodaya Sakti. Sancang Lodaya Sakti yakni salah satu keturunan Siliwangi dari istrinya yang berada di Gunung Ceremai Kuningan. Sejatinya suka berubah menjadi bagaikan “seekor harimau”. Oleh karena itu, keturunan Ki Gede Palimanan tak pernah dan tidak mau menyebut nama Ki Gede Palimanan karena setiap mengucap nama itu maka dihadapannya akan hadir tiba-tiba seekor harimau. Penduduk dan keturunannya selalu menyebut dengan nama Mbah Kuwu Sangkan.

Ki Gede Palimanan, tidak menyukai Prabu Atas Angin karena tetap tidak mau beralih keyakinan beragama. Beberapa kali Prabu Atas Angin ia bunuh, namun setiap anggota tubuh Prabu Atas Angin menyentuh tanah maka ia hidup kembali dan badannya utuh lagi. Begitulah seterusnya. Tetapi setelah dibunuh tubuh Prabu Atas Angin digantung tidak menyentuh tanah, barulah benar-benar meninggal. Sejatinya Prabu Atas Angin memiliki ilmu “Batara Bumi”. 

Prabu Atas Angin memiliki garwa Ibu Ratu Bungsu dari keturunan Ki Buyut Sawala. Dari perkawinan itu lahirlah Syeh Siti Jenar. Dilain pihak, yaitu Ki Gede Palimanan mulai membuatkan anutan Islam di Gunung Murti Jati atau lebih dikenal dengan nama Gunung Jati karena disana banyak terdapat pohon jati – Cirebon. Syeh Siti Jenar memiliki ilmu jiwa raganya dipenuhi “pangaweruh tanpa guru”. Namun perselisihan paham perihal anutan Islam dengan Dewan Walisanga, menyebabkan Syeh Siti Jenar yang tengah berkiprah didaerah Tuban – Demak Bintoro dianggap penganut Islam sesat. Untuk menghindari perseteruannya dengan para Walisanga, balasannya Syeh Siti Jenar lebih banyak berkhalwat di Cirebon Girang.

Syeh Siti Jenar diyakini balasannya melepas sukmanya, di daerah Gunung Awisan Kanoman atau Plangon Cirebon. Syeh Siti Jenar atau nama lain yaitu Syeh Lemah Abang, ajarannya lebih menitik-beratkan terhadap tasawuf dan mengandung nilai metafisika, dipandang Dewan Walisanga menyimpang dari anutan Islam. Pada balasannya keturunan Pajajaran ini murca. Ketika penulis ke Plangon, ternyata disana dinamai Syeh Syarif Abdurahim atau Pengeran Kejaksan. Namun Syeh Siti Jenar sebelum tilar dunya, mempunyai keturunan yang berjulukan Slingsing yang juga penyebar agama Islam di daerah Kudus.

Syeh Syarif Abdurahim atau Pangeran Kejaksan mempunyai saudara kandung yaitu Syeh Pangjunan. Dari Saudara-saudara Pangeran Kejaksan inilah menurunkan ulama yang membuatkan agama Islam ke banyak sekali peloksok daerah melalui salah seorang keturunannya, yaitu Syeh Syarif Hidayatullah. Salah satu wilayah yang di Islamkan termasuk Banten. Di Banten mempunyai garwa Ibu Ratu Kawung Anten dan melahirkan Syeh Sabakinkin dan Ratu Winaon. Ayah Syeh Syarif Hidayatullah yakni Maulana Muhammad Syarif Abdullah bin Nurul Alim, seorang pejabat di jazirah Arab. Dari da’wah Syeh Syarif Hidayatullah inilah penyebaran agama Islam berkembang pesat.

Begitulah Siliwangi. Beliau yang memiliki banyak sekali nama menyukai hidup berpindah-pindah tempat layaknya kaum nomaden. Memang secara lahiriyah kurang masuk kecerdikan karena begitu mudah berpindah dari satu tempat ke tempat lain, namun keadaan alam pada zaman itu mendukung petualangan Siliwangi. Kepindahan Siliwangi juga bukan tanpa sebab, dia mendiami di satu tempat disamping beristri untuk memperbanyak keturunan juga dengan menurunkan ilmu yang berbeda pula. Sehingga dapat disimpulkan membina setiap keturunan dengan sikap dan sifat yang berbeda disatu tempat dengan tempat lainnya. Namun walaupun demikian, tetap tujuan utamanya semoga anak keturunannya menyembah kepada Tuhan SWT dan mengikuti anutan yang diwariskan Tuhan kepada para Rasulullah SAW.


PENUTUP

Kejayaan Siliwangi jauh sebelum adanya besi. Memang fantastis. Oleh karena itu, Siliwangi beserta kisah sejarah, maupun peninggalannya hingga kini masih ditelusuri dan penuh dengan misteri yang belum terungkap. Hanya dimanakah Siliwangi berada ? Siliwangi telah ngahiyang. Mungkin ngancik pada keturunannya, mungkin pula pada setiap atau tokoh Pajajaran yang menyebar di Nusantara. Namun yang pasti Siliwangi telah murca di suatu tempat. Selama itu pula, anak keturunan Siliwangi hingga ketika ini masih menulusuri jejak nenek moyangnya. Kata orang Sunda, masih “nyucuk galur mapay galengan sugan aya cukang lantaran”, Iraha, dimana, jeung kumaha ayeuna Siliwangi? Mungkin banyak ragam yang mengartikan, biarlah menurut keyakinan, kepercayaan dan mata hatinya masing-masing. Toh karuhun selalu bersifat, bersikap dan berhati berilmu bijaksana “lautan hampura”. Apapun dan bagaimanapun alur yang mengkisahkan Siliwangi dengan Pajajarannya, merupakan menunjukan masih memiliki sebersit “kadeudeuh / kanyaah” terhadap nenek moyangnya.

Pemandian Air Panas Maribaya Bandung dan Asal Usulnya

Pemandian Air Panas Maribaya Bandung dan Asal Usulnya

Pemandian Air Panas Maribaya Bandung dan Asal Usulnya – Bandung memang terkenal sebagai Paris Van Java Indonesia sehingga sering dijadikan sebagai destinasi tujuan bagi para wisatawan khusunya dari Jakarta. Salah satu tempat wisata yang kerap dipadati pengunjung ketika hari libur tiba ialah Pemandian Air Panas Maribaya Bandung. Pasalnya area wisata ini cocok dikunjungi oleh aneka macam kalangan baik keluarga atau kaula muda.

Keberadaan Pemandian Air Panas Maribaya bahu-membahu terletak di kaki Gunung Masigit yang merupakan sebuah perkampungan kecil dengan alirandua sungai. Maka tak heran kalau tempat objek tersebut memiliki suhu yang lebih hambar dan membuat kota Bandung sebagai tempat untuk melepas penat maupun stres. Ada kalanya kenali lebih dulu asal seruan Pemandian Air Panas Maribaya Bandung dan pesona keindahan berikut ini.

Berwisata di Pemandian Air Panas Maribaya Bandung

Asal Muasal Taman Wisata Maribaya Bandung

Pemandian Air Panas Maribaya Bandung dan Asal Usulnya Pemandian Air Panas Maribaya Bandung dan Asal Usulnya

Konon di perkampungan taman wisata Maribaya hidup seorang wanita yang memiliki anak cantik berjulukan Maribaya. Karena kecantikan puterinya, pihak keluarga memutuskan untuk pergi bertapa ke Gunung Tangkuban Perahu untuk mencari wangsit. Selepas kembali dari pertapaan, Eyang Raksa Dinata ayah dari Maribaya menjalankan inspirasi untuk menumpahkan bokor dan munculah sumber air panas yang mengandung belerang. Pada tahun 1835 Eyang Raksa menyebarkan sumber air panas, sehingga banyak pengunjung yang menyambangi untuk sekedar rekreasi atau berobat.

Akses Menuju Pemandian Air Panas dan Air Terjun Maribaya


Pemandian Air Panas Maribaya Bandung dan Asal Usulnya Pemandian Air Panas Maribaya Bandung dan Asal Usulnya
Air Terjun Maribaya bahu-membahu masih masuk ke Taman Hutan Raya Ir. H Djuanda yang berlokasi di Jalan Maribaya, Lembang, Bandung Barat, Jawa Barat. Jika ditempuh dari sentra kota Bandung maka hanya berjarak 5 km tepatnya mengarah pada timur Lembang dan sampailah di Pemandian Air Panas Maribaya. Sementara itu, untuk spot lain berupa Air Terjun Maribaya mampu menempuh jalan melalui jembatan Maribaya.

Menikmati Keindahan Air Terjun Maribaya 


Pemandian Air Panas Maribaya Bandung dan Asal Usulnya Pemandian Air Panas Maribaya Bandung dan Asal Usulnya

Ada beberapa lokasi menarik yang mampu dikunjungi ketika berada di Maribaya. Pertama anda mampu mengunjungi objek wisata Air Terjuan Mraibaya yang sangat alami dengan latar belakang pepohonan, sehingga membuat siapa pun yang datang merasa nyaman dan menenangkan. Namun gerojokan ini lebih sering disebut Curug Omas oleh masyakarat sekitar. Ketinggian gerojokan tersebut kurang lebih sekitar 30 meter dan terdapat dua jembatan yang memudahkan pengunjung dalam menikmati pesona Air Terjun Maribaya.

Berendam di Pemandian Air Panas Maribaya 


Pemandian Air Panas Maribaya Bandung dan Asal Usulnya Pemandian Air Panas Maribaya Bandung dan Asal Usulnya

Anda juga mampu melaksanakan acara lain ketika tiba di tempat Maribaya Bandung, yakni berendam dalam air panas Maribaya. Konon kalau hal tersebut dilakukan akan dapat menyembuhkan aneka macam macam penyakit kulit. Anda akan semakin dimanjakan kalau berendam sambil menikmati jagung bakar dan ketan bakar khas dari Kota Bandung.

Melakukan Trekking di Taman Hutan Raya Djuanda 


Pemandian Air Panas Maribaya Bandung dan Asal Usulnya Pemandian Air Panas Maribaya Bandung dan Asal Usulnya

Setidaknya anda mencoba menikmati alam terbuka dengan cara trekking di Taman Hutan Raya Djuanda. Hanya melaksanakan trekking anda mampu melalui taman ini dan akan menemukan gua Belanda maupun gua Jepang, bahkan mampu bebas keluar masuk kedua  gua tersebut. Tetapi, perhatikan ketika hendak memasuki gua untuk menyiapkan alat penerangan.
Copyright © 2012 Best Adventure Trip All Right Reserved
Blog Serba Ada